Masih ada esok. Wanita setengah baya itu merenggangkan bibirnya, ia terengah-engah, ia menikmati dengan mata terpejam.“Mbak Wien telepon..,” suara wanita muda dari ruang sebelah menyalak, seperti bel dalam pertarungan tinju.Mbak Wien merapihkan pakaiannya lalu pergi menjawab telepon.“Ngapaian sih di situ..?” katanya lagi seperti iri pada Wien.Aku mengambil pakaianku. Bokep Tante Eh.., kesempatan, kesempatan, kesempatan. Mungkin sapu tangan ini saja suatu kealpaan. Paling tidak aku dapat melihat leher yang basah keringat karena kepayahan memijat. Dari jarak yang dekat ini hawa panas tubuhnya terasa. Tapi eh.., seorang penumpang pakai kaos oblong, mati aku. Pintu salon kubuka.“Selamat siang Mas,” kata seorang penjaga salon, “Potong, creambath, facial atau massage (pijit)..?”“Massage, boleh.” ujarku sekenanya.Aku dibimbing ke sebuah ruangan.




















