Kugeser tubuhku mendekat. Bokeb Saat itu jemarinya sudah masuk ke dalam celana dalamku, mengelus, lalu menggenggam batang kemaluanku. Kutekan tubuhku ke tubuhnya, hingga separuh tubuh kami bertindihan di atas sofa. Sama sekali tak ada emosi di sana. Aku mendiamkannya. “Ada apa?” tanyaku. Kupandang wajahnya. Setelah itu ia berpaling menatap ke luar jendela samping. Kurasakan nafsuku sudah mencapai klimaksnya. Kita impas?” Aku menoleh dan melihat ia masih dengan senyumnya menatapku. “Ini,” ucapku seraya menyodorkan gelas di tanganku. Ia membalikkan tubuh dan membungkuk. Sudah sering kudengar tentang hal ini dari canda teman-temanku. “Tunggu,” katanya sambil tersenyum. Masih kudengar ia tertawa di belakangku. Kurasakan jemariku menempel di dadanya. Alisnya berkerut, bibirnya setengah terbuka, seolah hendak mengatakan sesuatu. Kupejamkan mataku, menghisap buah dadanya, dan memainkan jemariku.




















