Wajahku merah padam. Darahku mendesir. Bokep Twitter Matanya dikedipkankan, bersamaan masuknya angkot lain di belakang angkotku tadi. Aku makin bersemangat, makin membara, makin terbakar. Dia hanya mengelus tanpa tenaga. Kaki disandarkan di dinding. Lalu pijitan turun ke bawah. Lalu pijitan turun ke bawah. Dimana kisah ini berawal dari pertemuan mereka diangkot, dan dilanjutkan di salon dimana wanita itu bekerja. Toh dia sudah seperti pasrah berada di dekapan kakiku. ”
Kemudian akupun bergegas untuk merapikan diri dan bersiap keluar dari salon itu. Dia berjalan menuju ruang telepon di sebelah. Satu dua, satu dua. Setelah mengunci salon, Fera kembali ke tempatku. Ayo. “ I… i… iya sama-sama ” balasku,
Sebenenarnya aku ingin sekali ada bahan yang yang bisa kami omongkan lagi, agar aku tidak perlu curi-curi pandang kepadanya.




















