Tapi begini,” katanya seraya menurunkan lenganku yang terangkat. Bokep in Buah dadanya menekan dadaku, membuatku bingung. Mungkin aku sedang bermimpi, saat kudengar ia bersenandung seolah menidurkanku. Tubuhnya lalu bergerak ke kiri dalam ayunan yang lembut. Alisnya berkerut, bibirnya setengah terbuka, seolah hendak mengatakan sesuatu. “Bukan, bukan begini. Tak ada satupun yang membuka pembicaraan. Nafasnya masih terengah. “Ruang tamu yang nyaman,” ucapnya beberapa saat setelah kuletakkan gelasku ke atas meja. Ia menoleh dan menatapku dengan heran. Nafasku tercekat saat ia melepas baju putih tipisnya. Jangan berhenti. Masih kudengar ia tertawa di belakangku. Sebentar. Kami saling terpaku beberapa saat, sebelum akhirnya ia berkata, lebih mirip desis gusar,
“Kamu hanya mau diam begitu?”
“Sial,” makiku. “Kamu lucu.”
“Hey !” protesku. Terus terang saja, ia membuatku tertarik. “Kamu lucu.”
“Hey !” protesku.




















