Tanpa perhitungan.”
Senyumku berubah kecut. Terus terang hal terakhir yang kubutuhkan saat ini adalah berbicara dengannya. Bokep Family Uang kita bagai setumpuk kertas gurauan dengan angka nol berderet-deret.Pukul 2 lewat. Rumah Felly?Belum habis keherananku, tiba-tiba ada ketukan di kaca jendelaku. Sambil dia maju-mundur, penisku seperti diremas-remas, dikocok-kocok, dipelintir-pelintir.Sepuluh menit kami berada dalam posisi seperti itu. segala macam perasaan bercampur aduk di kepalaku. Tampaknya ia baru selesai mandi. Setengah jam kemudian aku telah lupa bahwa aku sudah tidak ingin lagi bertemu dengan Felly. Malam itu begitu indah. “Telepon Pak Ricky, dari Felly.”
Shit..! Kutinggalkan rumahnya menuju rumahku.Ini yang kuheran. Ketiga temanku berhasil mendapatkan DFA di sana. “Hanya sedikit over drive.”
“Elo sendirian?”
Kujawab dengan anggukan lemah.




















